Monday, December 22, 2014
A Letter to My Mom
Friday, December 19, 2014
If Only You Were Here
Hell, I was in the middle of working with my colleagues sitting on their own chairs. I should not cry here. It would be embarassing and I was not supposed to do personal matter at the office.
So, I closed the video and grabbed my BlackBerry. I found a picture of me and my Ompung Doli (Grandpa) then put it as profile picture on BBM. Damn! I missed him so much!
During lunch break, I checked my BBM. My Tatte (aunt) has saved my profile picture and put the picture as her profile picture with status "Toppu malungun tu Damang" (Suddenly miss father). I sent her message.
Me: "Same here. I miss Ompung Doli so badly."
Tatte: "Yeah. Maybe because Christmas is coming."
Me: "Yeah..."
While riding my motorbike on my way home after work, I felt so sad. I cried out loud. My tears streamed on my both cheeks. I screamed, "Ompuuuung...!! Aku rinduuuu...!! (Grandpa! I miss you!) I realized some people saw me but I didn't care.
I missed him so, so badly that it hurt so deep. He was my guardian angel. He was my hero. He was my role model. He was everything to me. And he was not here. Anymore.
Arrived at home, I texted Tatte. Then, she called me. Her voice broke. She must have cried. She told me that my Mom also felt so mellow all day, missing Ompung Doli. We talked about 10 minutes, talking about how great Ompung Doli has been.
I lied down on and cried again.
It has been almost 5 months but I still missed my Ompung Doli. Everyday I remember him. Everyday I wish he was here. Everyday I hope he would be with me until I get old. Everyday I miss him.
Call me crybaby, but losing somebody that is everything to you is heartbroken. I don't think I can ever get over his death.
It is 4 months and 19 days.
"If only you were here, Pung. I miss you so badly."
"God Gave Me You"
Blake Shelton
I've made a mess of me
The person that I've been lately ain't who I wanna be
But you stay here right beside me
And watch as the storm blows through
And I need you
Cause God gave me you for the ups and downs
God gave me you for the days of doubt
And for when I think I lost my way
There are no words here left to say, it's true
God gave me you, gave me you
There's more here than what we're seeing a divine conspiracy
That you, an angel lovely, could somehow fall for me
You'll always be love's great martyr and I'll be the flattered fool
God gave me you for the ups and downs
God gave me you for the days of doubt
And for when I think I lost my way
There are no words here left to say, it's true
God gave me you
On my own I'm only half of what I could be
I can't do without you
We are stitched together
And what love has tethered, I pray we never undo
Cause God gave me you for the ups and downs
God gave me you for the days of doubt
God gave me you for the ups and downs
God gave me you for the days of doubt
And for when I think I lost my way
There are no words here left to say, it's true
God gave me you, gave me you
He gave me you
Saturday, November 8, 2014
Gagal Fokus dan Gagal Dapat Pacar: Korelasi = 0
Satu ponsel Nokia (dulu sempat menjadi produsen ponsel sejuta umat) yang usianya sudah uzur banget. Dipertahankan karena alasan yang sangat sentimentil.
Satu BlackBerry lama. Dipertahankan karena alasan yang sudah tidak kuingat lagi.
Satu ponsel Oppo yang berbasis Android. Baru berusia beberapa hari. (Akhirnya sahabatku menyerah dan membeli ponsel berbasis OS sejuta umat.)
Kami sudah mengobrol hampir dua jam sebelum memutuskan untuk mengakhiri hari dan tidur. Tiba-tiba Boyyan terdengar kebingungan, dia mengeluarkan gumaman yang tidak dapat kumengerti. Tiba-tiba dia tertawa.
Aku: "Kenapa?"
Boyyan: "Aku nyari-nyari handphone-ku satu lagi mana. Barusan aku mau ngasih tahu handphone-ku satu hilang."
Aku: "Terus?"
Boyyan: "Aku baru sadar. Satu kan lagi kupakai ngobrol ini. Bego banget ah!"
Kami tertawa terbahak-bahak. Kadang-kadang kami memang melakukan hal-hal bodoh yang lucu dan konyol.
Boyyan: "Pantesan aja nggak dapat-dapat cowok. Sering gagal fokus."
Aku: "Hubungannya apa?"
Boyyan: Cowok-cowok mana ada yang suka sama cewek gagal fokus? Cowok-cowok tuh sukanya sama cewek pintar."
Aku: "Gagal fokus dan punya pacar itu korelasinya nol. Nggak ada hubungannya."
Boyyan: "Ada. Bayangkan aja kalau lagi jalan-jalan di mall. Ceweknya menggandeng cowoknya, terus celingukan nyari sesuatu. Terus, pacarnya nanya, 'Yang, nyari apa?' Terus ceweknya jawab,
'Aku nyari cowokku. Dari tadi ada di sini kok kugandeng.'"
Aku: (tertawa ngakak) "Iya juga ya. Konyol banget kalau ada kek gitu. Ngegandeng pacar, tapi terus nyari-nyari pacarnya ada di mana. Ga sadar sedang ngegandeng pacarnya sendiri karena gagal fokus."
Kami masih tertawa-tawa membahas hal itu selama beberapa saat. Berdebat. Menurutku, tidak ada sama sekali korelasi antara gagal fokus dan gagal dapat pacar. Cewek yang gobloknya selangit saja bisa punya pacar atau suami. Cewek yang cerdasnya selangit pun bisa tidak punya pacar atau suami. Korelasi? Nol.
Kami masih belum mencapai kesepakatan tentang hipotesa ini hingga pembicaraan di telepon diakhiri. Mungkin nanti kalau kami bertemu, kami akan membahas persoalan tidak penting ini.
Wuakakakakakakakak....
*nggak penting!*
Saturday, September 13, 2014
Insomniac Granny
It started when I spent so much time alone at my balcony seven years ago. When I was in Malaysia, I rented a flat with two other girls. It was on the third floor. We had 3 bedrooms, 1 bathroom, a kitchen, a spacious living room, and a balcony.
I loved my room. It was only 7 m square with a small window, but it was as comfortable as a hotel suite. Okay, maybe I exaggerated, but it was comfortable.
If I was not in my room, you could find me at the balcony. Some people said that the balcony was haunted. But I found it calming and relaxing. I would sit down on the fence, drinking or smoking or calling my loved ones or just observing people and things on the street. My sleep time was reduced to 6 hours a day, then 5, then 4.
After going back to Indonesia for good, I met difficulty to overcome this problem. It has become a habit. I usually sleep only 4-5 hours. During last two years, I sleep only 3-4 hours. I could sleep more only when I was at my parents' house. My friends call me granny because they said the older you are, the less you need sleep.
Last Sunday, I slept for 3 hours only. Monday, 3 hours. Tuesday, 3 hours. Wednesday, 2 hours only. Yesterday, I couldn't sleep at all. Today, I did yoga for an hour, try to relax my mind and body. I hope that I can sleep more tonight. I made a cup of hot tea. I avoided reading and writing. I listened to System of A Down and Guns and Roses. I tried hard to fall asleep. I drank beer, hoping that I would pass out because of tiredness and beer.
Look! It's almost dawn. Damn! I don't think I can sleep tonight. Maybe tomorrow I should buy some sleeping pills.
This is not good at all. Am I old? Old is 60 years, dude! Duh! I have lost my appetite (I called Mom this afternoon, asking her send me package of her cuisine). I will die young!
Shutting down my brain. Turning off my body. Resting my soul.
Hell! Why am I still awake?
Sunday, September 7, 2014
Hari yang Cukup Menyenangkan
Tadi malam, aku berencana untuk mengikuti kebaktian jam 6.00 pagi di GPIB Ekklesia, Kalibata. Aku tidur kira-kira hampir pukul 2 dan terbangun pukul 6.14 WIB. Aku lupa mengatur alarm.
Lalu, aku putuskan untuk mengikuti kebaktian pukul 9.00 pagi. Dari situs gereja, aku mengetahui bahwa akan ada peringatan HUT Pelayanan Anak dan juga baptisan. Kupikir, tak apalah. Hitung-hitung mengobati sedikit kerinduan pada Sekolah Minggu (aku pernah menjadi guru Sekolah Minggu selama hampir 14 tahun, lho!).
Aku melewatkan makan siang dan makan malamku kemarin. Bukan, bukan karena menghemat. Aku hanya keasyikan membaca. Satu novel terjemahan dan dua novel berbahasa Inggris kuhabiskan dalam satu hari. Jadi, kupikir aku bisa sarapan dulu sebelum mandi dan berangkat.
Aku menyalakan ponsel dan membuka aplikasi permainan domino. Aku terlalu asyik bermain hingga tak sadar waktu sudah hampir setengah sembilan pagi. Aku buru-buru mandi, berpakaian, lalu berangkat.
Gedung gereja Ekklesia tidak terlalu besar. Ruang kebaktiannya hampir sebesar GPIB Gibeon Rumbai yang hanya memiliki 80 KK jemaat. Suasananya khas GPIB. Konservatif, tapi juga modern.
Liturgikanya standar. Lagu-lagu pilihannya lumayan. Pianisnya oke (aku selalu memberikan perhatian ekstra pada para pemusik gereja). Pemandu lagu biasa saja. Pendeta yang memberikan khotbah sedikit arogan dan membosankan. Tetapi aku menikmatinya. Bagaimanapun, keimanan dan spiritualitas itu kan sifatnya sangat pribadi dan rahasia, antara individu dan Tuhannya saja.
Sepulang kebaktian, aku mampir di Pempek Pak Raden di Jalan Pasar Minggu Raya. Tempatnya bersih. Sepi, karena belum jam makan siang. Tidak terlalu berisik. Sayang, makanan dan minumannya kurang enak.
Lalu, aku pulang ke rumahku, ke kamar kecilku yang panas namun nyaman. Aku memutar lagu dengan Mac-ku dan sangat menikmati obrolan dengan Pierre, adikku, lewat WhatsApp. Dilanjutkan dengan berbalas pesan dengan Boyyan, sahabatku, di Twitter. Lalu menonton The Prophecy (untuk keempat kalinya!) dan The Namesake. Mengobrol lagi lewat WhatsApp dengan Dye and G.
Sekarang masih pukul 8 malam, masih terlalu dini untuk tidur. Aku masih punya 3 novel berbahasa Indonesia dan 1 novel berbahasa Inggris yang belum kubaca. Mungkin aku akan membaca saja sampai waktu tidur tiba atau bermain virtual domino di ponsel.
Ya, hari ini memang hari yang cukup menyenangkan.
Saturday, August 30, 2014
I Miss You. I Really Do.
Simple words. Deep feelings. Scary thought. Because you are not here and I can tell you those words.
I remember the memories we had. I thought we would still have years to come. I thought we would still have chances to take. I thought there was still time.
But I am losing you. Maybe I have lost you for some time. I just did not realize. You are away and I am left here.
I miss talking with you. I miss hanging around you. I miss sitting beside you. You would be busy with your own thoughts and I would look at the sky trying to find any constellation. It's funny because I know nothing about constellation. It's just always something relaxing about the stars. It's like meditation, for my mind, for my body, for my soul.
I love you. More than you think. People would say I'm in love with you. Sometimes, I even think that you are my soulmate. But what is love? What is soulmate? I know nothing. What I know is I love you.
And I miss you. So much. I need nothing to tell you about it. I know you just know how much I miss you. Like Bon Jovi said, "This ain't a love song." So I don't need all the bullcrap.
I miss you. And it hurts cause I know you aren't here.
I miss you. I really do.
This is for you, my star.
Friday, August 29, 2014
More Than 'Forever'
"Nobody. It's kind of impossible, you know, sis?"
"Why is that?"
"Well, I know Big Bro would think and say the same thing about this. You are our only sister. No man, once again, no man will be good enough for you, in our eyes. Even if he is the best man alive in this earth, we'll always try to find his flaws."
"So, I better find the guy myself?"
"Yeah. You find the right guy for you, and we'll try to find any reasons to love him as well."
I think I would start to cry right a way if my little brother didn't ask me other things. It was the sweetest, nicest, and loveliest thing somebody has ever told me. More than just 'I love you'. More than 'You are my everything.' More than 'Forever.'
Thursday, August 29, 2014
Sunday, August 10, 2014
Wednesday, August 6, 2014
Keretaku Sedang Mogok
Sudah duapertiga perjalanan kami lewati. Malam sudah turun dari tadi. Mobil tampak gelap. Sesekali sinar dari lampu jalan dan lampu toko menerangi wajahku.
Tobias sudah tidur dari tadi. Tangannya diletakkan di atas perutku. Seperti biasa, merasa aman dan nyaman. Aku justru tidak bisa tidur.
Memikirkan Ompung Doli yang sudah tidak ada. Membayangkan hidupku setelah aku kembali ke Jakarta nanti. Mencemaskan adikku yang sudah berbulan-bulan masih terus menanti pekerjaan yang tepat. Mereka-reka kehidupan abangku bersama istri dan kedua anak mereka.
Sudah sebulan lebih aku melepaskan pekerjaanku yang terakhir. Walaupun mencemaskan isi tabungan yang semakin lama berkurang, belum ada semangat untuk berusaha mencari pekerjaan baru mati-matian.
Banyak mimpi yang mengantri untuk diwujudkan. Tapi belum ada semangat untuk memulainya. Terkadang aku merasa ingin meninggalkan keluargaku dan berkelana. Seperti momen 'me against the world', begitu.
Takut? Tentu. Manusiawi kan? Meninggalkan zona nyamanku dan melangkah ke zona yang sama sekali baru dan tidak dapat diprediksi.
Kuatir? Pasti. Wajar kan? Harus tinggal di mana, baiknya makan apa, mesti mengerjakan apa, bagusnya hidup dengan siapa.
Hmm... Sudah seringkali aku memikirkan hal-hal ini. Tapi belum ada keberanian untuk mengambil langkah. Pengecut? Mungkin. Tapi, tidak apalah. Sebut saja aku pengecut sesukamu. Tertawai aku seenakmu.
Tapi perjalananku masih dengan tiket yang sama. Masih dengan kereta yang sama. Mungkin nanti, aku akan membeli tiket yang baru. Dengan kapal. Atau pesawat. Atau bus. Atau berjalan kaki saja. Nantilah. Nanti saja. Keretaku sedang mogok. Montir sedang memperbaikinya. Aku akan menunggu sebentar lagi. Aku mau lihat tiket tanpa tujuan yang sudah kubeli ini akan membawaku ke mana. Ya, tunggu saja.
Monday, August 4, 2014
Saturday, August 2, 2014
See You Later, Pung!
Aku memesan taksi untuk pukul 3.30 WIB. Aku akan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Medan dengan penerbangan pukul 6.00 WIB. Sendiri. Pierre tidak jadi ikut pulang. Sangat sulit mendapatkan tiket dari Denpasar ke Medan, maklum masih masa Lebaran. Sudahlah seat-nya sangat terbatas, mahal pula. Cuma ada penerbangan Garuda, dengan transit di Kuala Lumpur (whaaaatt....????), dengan harga lebih dari tiga setengah juta rupiah sekali jalan. Mau yang lebih murah, harus menggunakan beberapa maskapai berbeda dan berhenti di beberapa kota. Denpasar ke Jogjakarta. Jogjakarta ke Surabaya. Surabaya ke Jakarta. Jakarta ke Medan. Hah!
Tiba di Bandara Kuala Namu, Medan, aku berlambat-lambat keluar dari terminal. Ini kali ketiga aku berada di bandara ini dan segala sesuatunya masih terasa sangat asing bagiku. Saat berjalan di lantai dasar, tiba-tiba seseorang menyapaku. Kaget, karena ternyata yang menyapaku Dexon, adik tingkatku di F. Psi UI dulu. Kami naik ke lantai satu dan memilih tempat di salah satu kedai. Mengobrol. Bertukar nomor telepon. Berfoto. Sayang, Dexon harus segera melapor ke check-in counter dan masuk ruang tunggu. Senang rasanya bertemu kawan lama. Terakhir kami berjumpa mungkin 9 tahun yang lalu. Kami berpisah dengan janji akan terus saling mengabari.
Well, aku tahu aku sedang mengulur waktu. Aku mencari taksi (di Medan, taksi itu sebutan untuk mobil sewaan bersama, semacam omprengan di Jakarta) dengan lamban, akhirnya memutuskan menyewa ojek untuk sampai ke pinggiran kota dan mencari taksi di sana, menyetir mobil Tulang Jan dari kota Balige ke rumah dengan lambat, menolak untuk melihat peti di mana Ompung Doli dibaringkan.
Aku belum siap.
Lucu. Ketika 2 tahun lalu Ompung Boru berangkat ke surga tanpa sakit, meninggal saat sedang tidur nyenyak, aku tidak sesedih ini. Ya, aku sedih, tentu saja. Kenanganku bersama Ompung Boru pun tidak kalah banyaknya. Tetapi, aku bisa lebih tegar dan santai menghadapinya. Tapi, ini lain. Rasanya sebagian dari diriku ikut pergi bersama Ompung Doli.
Lucu. Karena rasanya seperti kehilangan soulmate. Mungkinkah belahan jiwa kita itu adalah kakek kita sendiri? Mungkin mustahil, tapi rasanya ya seperti itu.
Aku menunggu hingga rumah sepi. Hanya ada saudara kandung Mom dan keluarga inti mereka. Aku mendekati Ompung Doli. Membuka kain (entah apa sebutannya) yang menutupnya. Kupandangi wajahnya. Kusentuh keningnya. Kuraba dadanya. Kugenggam tangannya. Lalu menangis.
Kalau tidak sendiri, aku hanya menangis di depan orang-orang tertentu. Di depan orang-orang pilihanku. Aku tidak suka dan tidak mau menunjukkan kelemahanku.
Kuhabiskan beberapa menit untuk menangis. Tidak lama, hanya sebentar. Lalu aku berpaling pada kedua keponakanku untuk mengajak mereka bermain.
Tanpa mengucapkan selamat jalan.
Friday, August 1, 2014
Sudah Selesai
F*ck!
Aku merasa jantungku meloncat keluar dari dadaku.
SMS dari abangku cuma dua kata.
Tatte menelepon beberapa saat yang lalu. Mengabarkan bahwa Ompung Doli dalam keadaan kritis. Katanya karena dehidrasi parah. Ditambah stroke luhur. Juga karena memang tubuhnya sudah tua.
Oh, come on! 79 years old, people. Banyak orang yang masih bertahan hidup, sehat pula, hingga usia 90 tahun.
Wake up, Bee! Ompung Doli itu petani. Tukang kayu gratisan karena hanya bekerja untuk keluarga. Tukang bangunan paruh waktu. Mengisap 2 bungkus rokok kretek sehari selama puluhan tahun. Memang bisa dibilang jarang minum minuman beralkohol. But, what do you expect?
Aku menelepon Pop. Tatte. Mom. BG. Confirmed, Ompung Doli sudah berangkat ke rumah Bapa di surga. Aku mengabari Pierre, adikku. Lalu mulai membuka internet untuk mengecek tiket pesawat. Pulang. Ke Balige.
Sekarang, aku baru punya waktu untuk mengingat kembali semua penggalan cerita di masa lalu, yang menampilkan Ompung Doli sebagai tokoh utama atau pemeran pendukung.
Ompung Doli yang selalu tampil necis. Sepatu putih. Kemeja. Topi. Rokok di sela-sela bibir.
Ompung Doli yang selalu membiarkanku menjadi bayangannya.
Ompung Doli yang tiba-tiba muncul saat subuh pertama setelah aku opname dan menghilang lagi petangnya.
Ompung Doli yang menolak ikut berlibur ke Bali hanya karena aku tidak mau ikut karena satu dan lain hal.
Ompung Doli yang selama setahun terakhir sering kali berkata, "Kalau aku sudah tidak ada, siapa yang akan menjagamu?"
Ompung Doli yang tidak banyak bicara.
Ompung Doli yang sabar dan tidak pernah marah.
Hatiku sakit. Rasanya seperti sedang patah hati setelah diputuskan pacar, hanya saja sakitnya berpuluh-puluh kali lebih parah. Aku merindukannya. Sangat.
Otakku mengerti, Ompung Doli sudah terbebas dari semua sakit fisik dan penderitaan dunia. Dia dijemput Bapa karena di rumah Bapa dia sudah pasti akan lebih baik dan lebih bahagia. Tapi hatiku menolak untuk paham. Berpuluh-puluh kali sudah kukatakan aku rela melepaskannya pergi, berjuta-juta kali kukatakan itu bohong.
Nanti. Aku akan melepaskannya dengan rela. Nanti.
Tidak sekarang.
Nanti.
Tuesday, July 15, 2014
Terima Kasih, Sahabat
Hidupku tidak pernah kurencanakan. Bagaimana caraku menjalani hidup pun tidak pernah berdasarkan rencana. Aku pernah beberapa kali membuat sesuatu yang kusebut Rencana Hidup: Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Tetapi yang kujalani selalu melenceng dari yang sudah kurencanakan. Aku berhenti membuat rencana dan menyatakan perang terhadap yang namanya rencana masa depan.
Aku mencintai kehidupan sebesar aku mencintai kematian. Aku ingin mengisi kehidupanku dengan hal-hal kecil dan besar yang bermakna. Bukan karena aku ingin dunia mengingatku setelah aku tiada. Tetapi supaya aku tidak punya penyesalan dalam hidupku.
Saat aku mati nanti, aku ingin dikremasi. Bukan karena aku tidak ingin diingat dunia setelah aku tiada. Tetapi aku ingin dunia mengingatku saat aku hidup, jadi tiada makam pun tidak akan masalah.
Aku sudah memberi tahu Boyyan beberapa hari lalu bahwa aku akan pergi di hari Senin. Tapi nyatanya, aku baru mengangkat pantatku dari rumah itu hari ini. Sudah kukatakan tadi kan, aku ini selalu membelok dari rencana yang sudah kubuat sendiri.
Boyyan sendiri sudah paham betul. Aku ini prokrastinator. Impulsif pula. Entah di sebelah mana tengkoraknya dia simpan kecerdasannya. Entah di sebelah mana hatinya pula dia simpan kesabarannya.
Sulit kukatakan betapa aku menyusahkannya selama ini. Kalaupun dia kesal dan muak, dia tidak menunjukkannya. Kejujuran selalu tersampaikan. Tetapi rasa tidak selalu bisa dipahami. Apa yang bisa kukatakan untuk semua yang sudah dia lakukan untukku, sengaja atau tidak, hanya, "Terima kasih, Sahabat."
Tuesday, April 15, 2014
A Time To Chill Out
I woke up early. Again. I'm still in my cycle, only 3-4 hours of sleep is enough.
I heated martabak I bought last night and made a mug of hot tea. While enjoying my breakfast, I listed down in my head things I wanted to do today.
Seemed like I had not-so-many options. Watching movie, reading books, cleaning up my room, preparing my stuffs for over-night stays at Boyyan's.
Oh, shoot! I'm too lazy to do all those things. If only I have super power.
I watched another movie. It was raining outside and I curled up like a baby under my blanket. I finished a novel. Then, I watched another movie.
Boyyan texted me, told me that she was home.
Okay. This had to be stopped! I took a bath and cleaned up my living/temporary bedroom. I packed my things and went to Boyyan's by my motorbike.
It was almost 9 pm when I arrived at Boyyan's. It has been 2 months since we met for the last time. She didn't change much. Well, neither did I.
I thanked God for giving me a bestfriend like her. We don't meet regularly. But one thing I always know, she'll be there whenever I need her.
Suddenly, I realized what I need most. A time to chill out. With a bestfriend. With somebody who never judge me for who I am or what I do. With somebody who understands me even when I can't say anything at all.
Monday, April 14, 2014
Doing Sh*ts Equals Happiness Equals Priceless
Om has gone to a camp. G and Pientha, two of my housemates, have gone, too, to the same camp. Aul and Pane, the other two have gone to Ujian Nasional. I was left all alone at the boarding house.
I woke up early. Then, I decided to play some songs and read a book. I made myself omelette and a mug of hot tea. My gastric acid was still high and it made me uncomfortable all night.
I ate my omelette and took some sips of my tea. Then I started to read a novel I bought couple days ago.
First line. Second line. Third line.
I closed my book and stared at the TV. It was off. I tried to find my shillouette on the screen. No luck. I opened my book again.
Fourth line. Fifth line.
I closed my book again and stared at the bed. It was messy. The blanket was not folded. And the bedsheet was wrinkled.
I put my book beside the mug. I approached my bed and laid. Blake Shelton still sang and I started to sleep.
Afternoon, I woke up because of the rain. It was raining outside and I pulled my blanket, covered my body. I reached my office laptop and played a movie. I turned the projector on.
I texted Boyyan, told her that I wouldn't come tonight. She was upset but she answered okay. One movie continued to another movie. One chapter led to another chapter.
I went to buy dinner with Cerepo, one of my adopted little brothers. Then, back to boarding house again. It rained all day and night.
I was watching another movie when I finally realized. F*ck, my first day passed. I did nothing.
Wait! This is why I took a week of leave. To relax. To do nothing but things I love.
Precious! Priceless!!
Monday, July 15, 2013
Guru Baru!
Akhirnya para guru baru datang bergabung dengan para pejuang yang tersisa di tempat ini. Perkenalan dimulai. Orientasi dimulai. Neraka dimulai.
Baiklah, sodara-sodara. Kita lihat satu-persatu apa saja hal baru yang dibawa guru-guru ini.
Ada yang pendiam. Ada yang banyak bicara. Ada yang malu-malu. Ada yang slengekan. Ada yang guru banget. Ada yang songong. Ada yang nggak pede. Ada yang sok tahu. Ada yang nggak tahu apa-apa.
Well, tidak ada yang baru. Hanya gaya-gaya lama dalam kemasan baru. Hanya pemikiran-pemikiran lama dengan wajah baru. Aku mulai merasa skeptis. Harapanku memupus. Oke, ini baru hari pertama. Don't judge a book from its cover, itu kata orang. But, after all, first impression does matter, right?
Aku menampar pipiku sendiri. Malu, karena tidak membuka pikiran dan hati untuk menerima orang-orang baru ini. Seharusnya aku yang paling mengerti betapa sulit dan meresahkan berada di tempat yang baru.
Aku menampar pipiku sendiri. Lagi. Besok aku akan memulai hariku dengan pikiran yang lebih terbuka. Dengan hati yang lebih ringan. Harus.
Selamat bergabung, teman-teman!
Friday, May 10, 2013
Kemewahan di Balik Kesengsaraan
Akhirnya.
Setelah berbulan-bulan tidak menulis blog, akhirnya mulai menulis lagi karena punya banyak waktu luang. Kenapa? Karena saya dirawat di rumah sakit, sodara-sodara!
Tadi siang, ditemani Mae, aku pergi ke BMC (Bakti Medi Care) untuk memeriksakan diri ke dokter. Aku paling benci dokter dan rumah sakit. Jadi, gejala yang sudah muncul dari hari Selasa dicueki begitu saja.
Aku dan Mae menunggu sebentar di depan ruang prakter dokter umum. Sialnya, ruang dokter umum berseberangan dengan ruang dokter anak. Bagi orang tidak penyuka anak-anak seperti aku, betapa menyebalkannya harus menunggu dengan bayi-bayi berwajah monyet. Tahu kan, bayi-bayi yang baru lahir, mungkin baru berusia 1-2 minggu, biasanya berkerut-kerut kulitnya seperti monyet.
Ketika akhirnya dokterku datang, jeng-jeng! Dokternya cewek dan masih muda banget! "Mampus gue!"
Mae langsung menyikutku. "Don't underestimate. Ntar ga sembuh-sembuh lho!"
Aku masih merapal mantra "Don't underestimate!" ketika perawat menyuruhku masuk.
Ternyata, dokter perempuan tidak segalak yang kubayangkan. Dan kemudaannya tidak sebodoh yang kutakutkan. dr. Giyati memang perempuan tapi dia sangat ramah dan sabar. Dia memang muda tapi tidak cukup bodoh untuk sembarangan membuat diagnosa.
Setelah hasil periksa darah dari lab keluar, dr. Giyati menawarkan rawat inap atau jalan. Setelah diceramahi Mae, akhirnya dapat surat rujukan untuk rawat inap di RS PMI yang terletak lebih di tengah kota. Saya terkena demam thypoid (alias typus), sodara-sodara!
Tulang Ald, adek Mom, pas menelepon. Saat kukatakan aku harus diopname karena typus, tulang malah ngakak. "Jauh-jauh ke Bogor, kok sakitnya typus. Katanya jagoan...." Goodbye, spank you very much, Tulang!
Ga beda, di kantor pun seperti itu. "Lo serius kena typus?" "Kok kayak ga sakit sih, miss?" "Beneran harus diopname?" "Preman bisa sakit juga ya?" "Kok ga kelihatan sakitnya?" Good bye, spank you very much, teman-teman!
Singkat kata, aku berangkat dengan Mae dan Mami Tia ke RS PMI diantar Pak Marno, supir kantor. Langsung ke IGD.
"Nurse, aku bawa surat rujukan dari BMC. Ada hasil lab juga untuk rujukan rawat inap."
"Pasiennya mana, bu?"
"Saya."
Perawat IGD bengong sebentar. Mungkin dia pikir, "Ni orang mau rawat inap kayak mau check in di hotel."
Singkat cerita lagi, akhirnya dapat kamar di VIP Melati di lantai 4. Bless you, Sampoerna, for giving me good room through the insurance company! Sayangnya, krn hujan deras, kilat dan petir yang obral banget di Bogor, dengan menyebalkannya semua elevator mati. Katanya kesamber petir! Imagine!
Tidak mau berlama-lama di IGD (ngebayangin bermilyar-milyar bakteri dan virus ada di situ dan bakal benci banget kalau harus lihat korban kecelakaan masuk), aku berkeras langsung segera ke kamar. Naik apa? Berjalan, sodara-sodara! Naik ke lantai 4 dengan infus sudah di tangan!
Mami Tia ngos-ngosan. Mae masih santai. Akunya lgsg sibuk meriksa kamar dengan antusias. Bwahahahaha....
Mae akan pulang sebentar untuk mandi dan beberes lalu akan datang lagi untuk menemaniku malam ini di RS.
So, here I am! Lying on my bed. I have AC, TV and fridge. Aku teringat pada kamar kostku. Shared bathroom. No AC. No TV. No fridge. I don't even have bed, only mattress.
This is totally not bad. Dalam pemulihan, aku benar-benar bisa beristirahat dari pekerjaan dan memanjakan diri dengan semua fasilitas rumah sakit.
Kemewahan di balik kesengsaraan. I start to like this.
Friday, August 31, 2012
Aku dan Barang Gratisan
Goodie bag yang didapat dari acara seminar dan sebangsanya tidak bisa dibilang barang gratisan kan? Setidaknya, aku membayar biaya seminar, lho! Dan bonus sampel krim wajah atau cairan pencuci yang didapat dari majalah juga tidak bisa dibilang barang gratisan. I pay for the mag, you know.
Masih ingat my buddy, Lia Lopez? Dia juga punya masalah yang sama. Dalam acara apa pun yang diselenggarakan perusahaan (sewaktu kami masih bekerja di tempat yang sama), kami tidak pernah membawa pulang hadiah doorprize apa pun. Kami cuma bisa memandang para pemenang menenteng hadiah mereka dengan tatapan iri.
Kami tidak iri pada hadiah mereka. Sungguh. Kami iri pada keberuntungan mereka!
My little brother once said, "Sis, there's no such a luck!"
Baiklah. Mungkin keberuntungan memang tidak ada. Mungkin aku dan Lia Lopez dan sebagian orang lainnya bukan orang yang beruntung. Mungkin kami hanya tidak cocok dengan barang gratisan!
Rasanya sulit membayangkan mendapatkan barang gratisan begitu saja.
Dulu, aku harus membuat pertaruhan-pertaruhan dengan Pop dan Mom untuk mendapatkan sesuatu. Masuk tiga besar di kelas supaya bisa liburan ke Borobudur. Lulus UMPTN supaya dibelikan braces untuk meratakan gigi. Menyetrika baju setiap hari untuk sedikit uang jajan. Menguruskan badan untuk mendapatkan laptop.
Tapi semuanya memberiku pelajaran. Apa yang kudapat melalui usaha dan perjuangan akan kujaga dengan baik. Mendapatkan barang gratisan memang asyik. Tapi berhasil memperoleh sesuatu melalui kerja keras, terasa jauh lebih memuaskan!
Tuesday, August 28, 2012
Mantik
Seseorang pernah kudengar berkata, "Kau boleh ambil semua yang kumiliki, except my pride. Biarkan aku memilikinya, karena cuma itu yang bisa kujaga atas pertaruhan apa pun."
Ketika itu, aku hanya tersenyum. Temanku itu menikah dengan seorang pria karena orangtuanya berhutang cukup banyak pada keluarga suaminya. Walaupun sulit membayangkan kisah Siti Nurbaya di zaman modern ini, kisah temanku sangat nyata kupahami. Kata-kata di atas keluar dari mulut temanku saat sang suami suatu hari memaksanya berhubungan intim ketika ia tengah haid pertama setelah melahirkan anak keduanya.
Ompung boru, nenekku dari pihak Mom, sering mengatakan, "Mantik di sana, lebih mantik di sini!" (mantik bisa diartikan sok, sombong, yah semacamnya-lah!).
Baru-baru ini, dalam acara pemakaman ompung boru, abangku menyinggung kata-kata itu dalam sambutannya. "Perempuan memang harus mantik, harus punya harga diri. Jangan mau direndahkan oleh siapa pun, apalagi lelaki."
Aku sendiri tidak pernah menganggap 'sombong' dapat mengartikan diriku. Belum ada yang pernah menyebutku sombong, kecuali saat ingin mengeluhkan betapa sulitnya berkomunikasi atau bertemu denganku. Tidak ada yang bisa kusombongkan, walaupun aku bisa membuat daftar hal-hal yang kubanggakan.
Namun, saat seseorang merendahkan atau meremehkan diriku, sungguh sangat tidak tahan rasanya mengekang lidah untuk menyombong. Saat ada orang yang mencoba mendefinisikan aku dengan omong kosong yang cuma dikarangnya di dalam kepala, sungguh sangat sulit rasanya menahan kepalan untuk menjotos.
Pride. Harga diri. Sombong. Mantik.
Ah, terserahlah! Yang jelas, aku yang paling tahu bagaimana diriku. Walaupun kadang aku membutuhkan orang lain untuk lebih mengenali diri. Orang lain, sebagai cermin. Ya, cuma cermin. Sombong? Mungkin saja. Mantik? Biar saja. Itu hanya salah satu dari bagian harga diriku kok!
Saturday, August 25, 2012
Aku dan Lia Lopez: Summa Cum Laude
Suatu waktu, entah sedang bercerita tentang apa, tiba-tiba aku bertanya, "IPK-mu waktu lulus S2 berapa?"
"3.8," katanya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Anjriiit....! Padahal kau waktu ambil S2 sambil kerja ya?" Dia bekerja sebagai English teacher di sebuah SMP. "IPK S1 berapa?"
"4.00," katanya lagi.
Aku sempat melongo untuk beberapa detik. "Kau lulus 3.5 tahun dengan summa cum laude?"
Dia tertawa kecil. "Biasa aja lagi, Bee. Lagian, waktu itu, permasalahan HKBP pas lagi puncak-puncaknya. Bapakku (pendeta, red) digaji-nggak digaji. Mamaku sudah nggak kerja. Aku anak paling besar. Harus cepat lulus dan bekerja kan?"
Tetap saja, lulus strata satu selama 3.5 tahun dengan predikat summa cum laude, rasanya ajaib sekali! Apalagi bagiku, yang lulus enam tahun hanya dengan IPK cukup makan.
"Cuma UNRI, Bee. Malah buat aku, kuliah di UI kayak kau tuh cuma bisa dimimpiin. Bahkan buat mimpi aja, aku ga berani. Levelnya di atas kemampuanku banget."
Tetap saja, lulus dengan transkrip nilai yang isinya A semua, rasanya menakjubkan sekali! Apalagi bagiku, yang dapat C saja sudah sangat bersyukur.
Predikat cum laude, atau bahkan summa cum laude? Memimpikannya saja aku tidak berani!

%2B(2).jpg)
.jpg)



