Dalam perjalanan pulang dari Balige ke Pekanbaru, seperti biasa aku dan Tobias, keponakanku, kebagian tempat di bagasi mobil. Bagasi Terrano Pop dilapisi kasur gulung, di mana aku dan Tobias bisa menggulung badan sedemikian rupa agar muat untuk tidur. Sebagian barang diletakkan di sisi kanan, lalu diatasnya diletakkan bantal untuk alas kepala. Di sisi kiri, sebagian barang diletakkan dan kami bebas menumpangkan kaki-kaki kami di atasnya.
Sudah duapertiga perjalanan kami lewati. Malam sudah turun dari tadi. Mobil tampak gelap. Sesekali sinar dari lampu jalan dan lampu toko menerangi wajahku.
Tobias sudah tidur dari tadi. Tangannya diletakkan di atas perutku. Seperti biasa, merasa aman dan nyaman. Aku justru tidak bisa tidur.
Memikirkan Ompung Doli yang sudah tidak ada. Membayangkan hidupku setelah aku kembali ke Jakarta nanti. Mencemaskan adikku yang sudah berbulan-bulan masih terus menanti pekerjaan yang tepat. Mereka-reka kehidupan abangku bersama istri dan kedua anak mereka.
Sudah sebulan lebih aku melepaskan pekerjaanku yang terakhir. Walaupun mencemaskan isi tabungan yang semakin lama berkurang, belum ada semangat untuk berusaha mencari pekerjaan baru mati-matian.
Banyak mimpi yang mengantri untuk diwujudkan. Tapi belum ada semangat untuk memulainya. Terkadang aku merasa ingin meninggalkan keluargaku dan berkelana. Seperti momen 'me against the world', begitu.
Takut? Tentu. Manusiawi kan? Meninggalkan zona nyamanku dan melangkah ke zona yang sama sekali baru dan tidak dapat diprediksi.
Kuatir? Pasti. Wajar kan? Harus tinggal di mana, baiknya makan apa, mesti mengerjakan apa, bagusnya hidup dengan siapa.
Hmm... Sudah seringkali aku memikirkan hal-hal ini. Tapi belum ada keberanian untuk mengambil langkah. Pengecut? Mungkin. Tapi, tidak apalah. Sebut saja aku pengecut sesukamu. Tertawai aku seenakmu.
Tapi perjalananku masih dengan tiket yang sama. Masih dengan kereta yang sama. Mungkin nanti, aku akan membeli tiket yang baru. Dengan kapal. Atau pesawat. Atau bus. Atau berjalan kaki saja. Nantilah. Nanti saja. Keretaku sedang mogok. Montir sedang memperbaikinya. Aku akan menunggu sebentar lagi. Aku mau lihat tiket tanpa tujuan yang sudah kubeli ini akan membawaku ke mana. Ya, tunggu saja.
Showing posts with label faith. Show all posts
Showing posts with label faith. Show all posts
Wednesday, August 6, 2014
Sunday, July 22, 2012
Sst...Jangan Berisik, Tuhan Sedang Bekerja!
Sudah hampir tiga minggu, aku terjebak di suatu tempat yang tidak seharusnya. Tanpa bebas melakukan apa pun (namanya juga terjebak!), bahkan hanya untuk merencanakan sesuatu. Semuanya serba menunggu, entah apa yang ditunggu.
Mungkin sudah banyak hal yang kulakukan untuk melepaskan diri dari keterjebakan ini. Walaupun belum semuanya. Mereka bilang belum waktunya aku menyerah dan berputus asa. Waktu masih panjang, badan masih kuat, otak masih jalan...
Tapi rasanya, sudah tidak sanggup lagi. Hari berlalu seperti sepeda motor yang dipacu di sirkuit. Tubuh semakin lama semakin lelah dan perjalanan umur tidak dapat dihambat. Benak tidak dapat lagi diajak kompromi untuk memikirkan hal-hal penting yang memang harus dipikirkan.
Atau mungkin hal-hal yang selama ini dianggap penting, sebenarnya tidak penting lagi...
Pernahkah kau merasa bahwa usaha apa pun akan sia-sia, dan perjalanan yang kau tempuh terlihat tidak mempunyai ujung dan akhir?
Aku tahu, perjalananku masih panjang, sangat panjang. Tapi, aku percaya, langkahku suatu saat akan berakhir di sebuah ujung jalan, di mana aku akan berhenti (walaupun sejenak) untuk beristirahat sebelum aku menempuh perjalanan lainnya dengan jalan dan ujung yang berbeda.
Ah, kakiku sudah semakin melemah. Dan aku cuma bisa menangis cengeng dan berbisik, "Tuhan, biarkan aku beristirahat sejenak. Berikan aku kelegaan walaupun untuk sekejap." Aku menyerah. Dan akhirnya cuma bisa berserah.
Entah apa yang dijawab Tuhan. Aku cuma bisa percaya; saat ini aku berhenti untuk berdiam diri --mencoba mengistirahatkan kaki-kakiku-- dan menyerahkan bendera perjuangan pada Tuhan. Hahaha...mungkin kau sedang mengejekku karena menyerah semudah ini. Masa seenaknya mengeluh lalu menyuruh Tuhan mengambil alih perjalanan?
Sst...jangan berisik, Tuhan sedang bekerja!
Mungkin sudah banyak hal yang kulakukan untuk melepaskan diri dari keterjebakan ini. Walaupun belum semuanya. Mereka bilang belum waktunya aku menyerah dan berputus asa. Waktu masih panjang, badan masih kuat, otak masih jalan...
Tapi rasanya, sudah tidak sanggup lagi. Hari berlalu seperti sepeda motor yang dipacu di sirkuit. Tubuh semakin lama semakin lelah dan perjalanan umur tidak dapat dihambat. Benak tidak dapat lagi diajak kompromi untuk memikirkan hal-hal penting yang memang harus dipikirkan.
Atau mungkin hal-hal yang selama ini dianggap penting, sebenarnya tidak penting lagi...
Pernahkah kau merasa bahwa usaha apa pun akan sia-sia, dan perjalanan yang kau tempuh terlihat tidak mempunyai ujung dan akhir?
Aku tahu, perjalananku masih panjang, sangat panjang. Tapi, aku percaya, langkahku suatu saat akan berakhir di sebuah ujung jalan, di mana aku akan berhenti (walaupun sejenak) untuk beristirahat sebelum aku menempuh perjalanan lainnya dengan jalan dan ujung yang berbeda.
Ah, kakiku sudah semakin melemah. Dan aku cuma bisa menangis cengeng dan berbisik, "Tuhan, biarkan aku beristirahat sejenak. Berikan aku kelegaan walaupun untuk sekejap." Aku menyerah. Dan akhirnya cuma bisa berserah.
Entah apa yang dijawab Tuhan. Aku cuma bisa percaya; saat ini aku berhenti untuk berdiam diri --mencoba mengistirahatkan kaki-kakiku-- dan menyerahkan bendera perjuangan pada Tuhan. Hahaha...mungkin kau sedang mengejekku karena menyerah semudah ini. Masa seenaknya mengeluh lalu menyuruh Tuhan mengambil alih perjalanan?
Sst...jangan berisik, Tuhan sedang bekerja!
About
faith
Location:
Rumbai, Pekanbaru, Indonesia
Saturday, June 30, 2012
Save Your Soul
Bagian yang paling melelahkan adalah ketika semua orang berpikir aku selalu kuat. Selalu bersedia mengalah. Selalu bisa mengerti.
Saat aku lemah, orang bilang aku cengeng. Saat aku kuat, orang bilang sudah seharusnya. Saat aku mengeraskan hati dan kepala, orang bilang aku kurang ajar dan arogan. Saat aku mengalah, orang bilang sudah selayaknya.
Sekeras kepala apa pun, selalu akhirnya bisa mengalah, hanya karena aku takut menyakiti orang lain lebih dalam lagi. Sebenar apa pun aku, tidak pernah ada kata rayuan atau bujukan. Luka hati yang ada sudah tidak terhitung banyaknya karena tidak pernah sembuh sejak masih gadis kecil yang minta dimanja.
Yang harus dilihat adalah aku yang kuat, yang berani, yang kasar. Dengan begitu, orang lain tidak bertambah susah.
Hanya seorang sahabat yang pernah berkata padaku, "Di balik sikapmu yang kasar, sebenarnya hatimu sangat lembut."
Tapi, dia juga yang tidak pernah percaya kalau kukatakan aku sedang lemah.
Aku capek menjadi kuat.
Sekali saja, ingin rasanya ada yang mengatakan, "Tidak apa, Bee, kalau mau menangis, menangislah. Setelah berhenti, diam dan bangkit kembali."
Sekali saja, ingin rasanya ada yang membisikkan, "Tidak apa menjadi lemah untuk saat ini, Bee. Aku akan menjadi kekuatanmu."
Bertahun-tahun menanti, tidak ada juga yang berani maju dan menarik telingaku untuk meneriakkan kata-kata itu. Dan aku belajar, bahagia itu bukan apa yang sudah kita miliki, melainkan menerima apa pun yang sudah kita punya dan tidak kita punya dengan rasa syukur. Bahagia itu cuma kata abstrak yang harus dikonkretkan dalam hati dan pikiran masing-masing.
Tidak ada yang tersisa untuk disesali atau direnungkan terlalu lama. Tidak perlu menjadi pahlawan dan kekuatan bagi orang lain.
Save your own soul. Itu aja.
#CatatanSiBee: June 22, 2012
Di suatu sore yang tenang, saat rasanya tidak ada lagi alasan untuk meneruskan perjalanan, kepala berbisik pada hati, atau hati yang berteriak pada kepala, entahlah, sang jiwa terhempas ke lautan hitam dan dalam...
Saat aku lemah, orang bilang aku cengeng. Saat aku kuat, orang bilang sudah seharusnya. Saat aku mengeraskan hati dan kepala, orang bilang aku kurang ajar dan arogan. Saat aku mengalah, orang bilang sudah selayaknya.
Sekeras kepala apa pun, selalu akhirnya bisa mengalah, hanya karena aku takut menyakiti orang lain lebih dalam lagi. Sebenar apa pun aku, tidak pernah ada kata rayuan atau bujukan. Luka hati yang ada sudah tidak terhitung banyaknya karena tidak pernah sembuh sejak masih gadis kecil yang minta dimanja.
Yang harus dilihat adalah aku yang kuat, yang berani, yang kasar. Dengan begitu, orang lain tidak bertambah susah.
Hanya seorang sahabat yang pernah berkata padaku, "Di balik sikapmu yang kasar, sebenarnya hatimu sangat lembut."
Tapi, dia juga yang tidak pernah percaya kalau kukatakan aku sedang lemah.
Aku capek menjadi kuat.
Sekali saja, ingin rasanya ada yang mengatakan, "Tidak apa, Bee, kalau mau menangis, menangislah. Setelah berhenti, diam dan bangkit kembali."
Sekali saja, ingin rasanya ada yang membisikkan, "Tidak apa menjadi lemah untuk saat ini, Bee. Aku akan menjadi kekuatanmu."
Bertahun-tahun menanti, tidak ada juga yang berani maju dan menarik telingaku untuk meneriakkan kata-kata itu. Dan aku belajar, bahagia itu bukan apa yang sudah kita miliki, melainkan menerima apa pun yang sudah kita punya dan tidak kita punya dengan rasa syukur. Bahagia itu cuma kata abstrak yang harus dikonkretkan dalam hati dan pikiran masing-masing.
Tidak ada yang tersisa untuk disesali atau direnungkan terlalu lama. Tidak perlu menjadi pahlawan dan kekuatan bagi orang lain.
Save your own soul. Itu aja.
#CatatanSiBee: June 22, 2012
Di suatu sore yang tenang, saat rasanya tidak ada lagi alasan untuk meneruskan perjalanan, kepala berbisik pada hati, atau hati yang berteriak pada kepala, entahlah, sang jiwa terhempas ke lautan hitam dan dalam...
Location:
Johor, Malaysia
Subscribe to:
Posts (Atom)
