Sahabatku, Boyyan, sekarang memiliki tiga ponsel.
Satu ponsel Nokia (dulu sempat menjadi produsen ponsel sejuta umat) yang usianya sudah uzur banget. Dipertahankan karena alasan yang sangat sentimentil.
Satu BlackBerry lama. Dipertahankan karena alasan yang sudah tidak kuingat lagi.
Satu ponsel Oppo yang berbasis Android. Baru berusia beberapa hari. (Akhirnya sahabatku menyerah dan membeli ponsel berbasis OS sejuta umat.)
Kami sudah mengobrol hampir dua jam sebelum memutuskan untuk mengakhiri hari dan tidur. Tiba-tiba Boyyan terdengar kebingungan, dia mengeluarkan gumaman yang tidak dapat kumengerti. Tiba-tiba dia tertawa.
Aku: "Kenapa?"
Boyyan: "Aku nyari-nyari handphone-ku satu lagi mana. Barusan aku mau ngasih tahu handphone-ku satu hilang."
Aku: "Terus?"
Boyyan: "Aku baru sadar. Satu kan lagi kupakai ngobrol ini. Bego banget ah!"
Kami tertawa terbahak-bahak. Kadang-kadang kami memang melakukan hal-hal bodoh yang lucu dan konyol.
Boyyan: "Pantesan aja nggak dapat-dapat cowok. Sering gagal fokus."
Aku: "Hubungannya apa?"
Boyyan: Cowok-cowok mana ada yang suka sama cewek gagal fokus? Cowok-cowok tuh sukanya sama cewek pintar."
Aku: "Gagal fokus dan punya pacar itu korelasinya nol. Nggak ada hubungannya."
Boyyan: "Ada. Bayangkan aja kalau lagi jalan-jalan di mall. Ceweknya menggandeng cowoknya, terus celingukan nyari sesuatu. Terus, pacarnya nanya, 'Yang, nyari apa?' Terus ceweknya jawab,
'Aku nyari cowokku. Dari tadi ada di sini kok kugandeng.'"
Aku: (tertawa ngakak) "Iya juga ya. Konyol banget kalau ada kek gitu. Ngegandeng pacar, tapi terus nyari-nyari pacarnya ada di mana. Ga sadar sedang ngegandeng pacarnya sendiri karena gagal fokus."
Kami masih tertawa-tawa membahas hal itu selama beberapa saat. Berdebat. Menurutku, tidak ada sama sekali korelasi antara gagal fokus dan gagal dapat pacar. Cewek yang gobloknya selangit saja bisa punya pacar atau suami. Cewek yang cerdasnya selangit pun bisa tidak punya pacar atau suami. Korelasi? Nol.
Kami masih belum mencapai kesepakatan tentang hipotesa ini hingga pembicaraan di telepon diakhiri. Mungkin nanti kalau kami bertemu, kami akan membahas persoalan tidak penting ini.
Wuakakakakakakakak....
*nggak penting!*
Showing posts with label friends. Show all posts
Showing posts with label friends. Show all posts
Saturday, November 8, 2014
Tuesday, July 15, 2014
Terima Kasih, Sahabat
Setelah menumpang selama 2 minggu penuh, akhirnya aku meninggalkan rumah Boyyan dan hijrah ke tempatku sendiri. Hijrah sementara, karena 90% harta bendaku masih kutinggal di rumah Boyyan. Ke tempat sementara, karena aku tidak punya rencana sama sekali sampai kapan aku menempatinya.
Hidupku tidak pernah kurencanakan. Bagaimana caraku menjalani hidup pun tidak pernah berdasarkan rencana. Aku pernah beberapa kali membuat sesuatu yang kusebut Rencana Hidup: Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Tetapi yang kujalani selalu melenceng dari yang sudah kurencanakan. Aku berhenti membuat rencana dan menyatakan perang terhadap yang namanya rencana masa depan.
Aku mencintai kehidupan sebesar aku mencintai kematian. Aku ingin mengisi kehidupanku dengan hal-hal kecil dan besar yang bermakna. Bukan karena aku ingin dunia mengingatku setelah aku tiada. Tetapi supaya aku tidak punya penyesalan dalam hidupku.
Saat aku mati nanti, aku ingin dikremasi. Bukan karena aku tidak ingin diingat dunia setelah aku tiada. Tetapi aku ingin dunia mengingatku saat aku hidup, jadi tiada makam pun tidak akan masalah.
Aku sudah memberi tahu Boyyan beberapa hari lalu bahwa aku akan pergi di hari Senin. Tapi nyatanya, aku baru mengangkat pantatku dari rumah itu hari ini. Sudah kukatakan tadi kan, aku ini selalu membelok dari rencana yang sudah kubuat sendiri.
Boyyan sendiri sudah paham betul. Aku ini prokrastinator. Impulsif pula. Entah di sebelah mana tengkoraknya dia simpan kecerdasannya. Entah di sebelah mana hatinya pula dia simpan kesabarannya.
Sulit kukatakan betapa aku menyusahkannya selama ini. Kalaupun dia kesal dan muak, dia tidak menunjukkannya. Kejujuran selalu tersampaikan. Tetapi rasa tidak selalu bisa dipahami. Apa yang bisa kukatakan untuk semua yang sudah dia lakukan untukku, sengaja atau tidak, hanya, "Terima kasih, Sahabat."
Hidupku tidak pernah kurencanakan. Bagaimana caraku menjalani hidup pun tidak pernah berdasarkan rencana. Aku pernah beberapa kali membuat sesuatu yang kusebut Rencana Hidup: Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Tetapi yang kujalani selalu melenceng dari yang sudah kurencanakan. Aku berhenti membuat rencana dan menyatakan perang terhadap yang namanya rencana masa depan.
Aku mencintai kehidupan sebesar aku mencintai kematian. Aku ingin mengisi kehidupanku dengan hal-hal kecil dan besar yang bermakna. Bukan karena aku ingin dunia mengingatku setelah aku tiada. Tetapi supaya aku tidak punya penyesalan dalam hidupku.
Saat aku mati nanti, aku ingin dikremasi. Bukan karena aku tidak ingin diingat dunia setelah aku tiada. Tetapi aku ingin dunia mengingatku saat aku hidup, jadi tiada makam pun tidak akan masalah.
Aku sudah memberi tahu Boyyan beberapa hari lalu bahwa aku akan pergi di hari Senin. Tapi nyatanya, aku baru mengangkat pantatku dari rumah itu hari ini. Sudah kukatakan tadi kan, aku ini selalu membelok dari rencana yang sudah kubuat sendiri.
Boyyan sendiri sudah paham betul. Aku ini prokrastinator. Impulsif pula. Entah di sebelah mana tengkoraknya dia simpan kecerdasannya. Entah di sebelah mana hatinya pula dia simpan kesabarannya.
Sulit kukatakan betapa aku menyusahkannya selama ini. Kalaupun dia kesal dan muak, dia tidak menunjukkannya. Kejujuran selalu tersampaikan. Tetapi rasa tidak selalu bisa dipahami. Apa yang bisa kukatakan untuk semua yang sudah dia lakukan untukku, sengaja atau tidak, hanya, "Terima kasih, Sahabat."
Tuesday, April 15, 2014
A Time To Chill Out
Day #2 - Annual Leave
I woke up early. Again. I'm still in my cycle, only 3-4 hours of sleep is enough.
I heated martabak I bought last night and made a mug of hot tea. While enjoying my breakfast, I listed down in my head things I wanted to do today.
Seemed like I had not-so-many options. Watching movie, reading books, cleaning up my room, preparing my stuffs for over-night stays at Boyyan's.
Oh, shoot! I'm too lazy to do all those things. If only I have super power.
I watched another movie. It was raining outside and I curled up like a baby under my blanket. I finished a novel. Then, I watched another movie.
Boyyan texted me, told me that she was home.
Okay. This had to be stopped! I took a bath and cleaned up my living/temporary bedroom. I packed my things and went to Boyyan's by my motorbike.
It was almost 9 pm when I arrived at Boyyan's. It has been 2 months since we met for the last time. She didn't change much. Well, neither did I.
I thanked God for giving me a bestfriend like her. We don't meet regularly. But one thing I always know, she'll be there whenever I need her.
Suddenly, I realized what I need most. A time to chill out. With a bestfriend. With somebody who never judge me for who I am or what I do. With somebody who understands me even when I can't say anything at all.
I woke up early. Again. I'm still in my cycle, only 3-4 hours of sleep is enough.
I heated martabak I bought last night and made a mug of hot tea. While enjoying my breakfast, I listed down in my head things I wanted to do today.
Seemed like I had not-so-many options. Watching movie, reading books, cleaning up my room, preparing my stuffs for over-night stays at Boyyan's.
Oh, shoot! I'm too lazy to do all those things. If only I have super power.
I watched another movie. It was raining outside and I curled up like a baby under my blanket. I finished a novel. Then, I watched another movie.
Boyyan texted me, told me that she was home.
Okay. This had to be stopped! I took a bath and cleaned up my living/temporary bedroom. I packed my things and went to Boyyan's by my motorbike.
It was almost 9 pm when I arrived at Boyyan's. It has been 2 months since we met for the last time. She didn't change much. Well, neither did I.
I thanked God for giving me a bestfriend like her. We don't meet regularly. But one thing I always know, she'll be there whenever I need her.
Suddenly, I realized what I need most. A time to chill out. With a bestfriend. With somebody who never judge me for who I am or what I do. With somebody who understands me even when I can't say anything at all.
Thursday, November 26, 2009
Axl W. Rose: My first crush
When I was in grade 5, I had a crush. It was my first crush! Do you know who the lucky guy was? Axl W. Rose, the popular Guns ‘n Roses vocalist!Hahahaha.... I saw Axl for the first time in G'nR video clip, November Rain. In my eyes, he was so manly, sexy, and handsome.
When I told my friends about my crush, they laughed at me. They had crushed on our seniors (junior high school) or on some handsome models or some cool movie stars. I had crush on a rocker who would never meet me in any condition.
'Twas just a crush. I like him because he sang differently and he got style! I was different from my friends that time, I am still now. And I'm proud of it. Being different is cool!
Subscribe to:
Posts (Atom)
