Me, My Self, and I

Friday, November 7, 2014

Tuhan Itu Curang!

cu.rang a tidak jujur; tidak lurus hati; tidak adil
(KBBI, 1997)

Aku baru saja selesai mengobrol dengan Tobias, keponakanku yang berusia 7 tahun. Awalnya, dia menyampaikan bahwa paket berisi majalah dan komik yang kukirim sudah tiba. Lalu, obrolan kami berjalan ngalor-ngidul dari PR menggambarnya yang harus dikumpulkan besok hingga Adrienne, adiknya yang sedang membuat roti panggang bersama Bang God, ayah mereka.

Berikut sepenggal pembicaraanku dengan Tobias.

Tobias: "Bou, Bou sudah dapat kerjaan kan?"
(Nadanya lebih mirip pernyataan ketimbang pertanyaan. Mungkin kiriman paketku bermakna aku sudah punya cukup uang untuk dipakai membeli buku.)

Aku: "Belum. Abang tetap doakan Bou kan?"

Tobias: "Ah, sudah capek Abang berdoa. Masa Bou belum dapat kerjaan juga?"

Aku: "Aduh, jangan capek dong, Bang. Doakan terus."

Tobias: "Ah, Tuhan itu curang, Bou. Udah capek kali Abang berdoa, tapi nggak dikasih-kasih-Nya kerjaan sama Bou."

Sejenak aku terdiam, sebelum akhirnya berkata, "Bukan curang. Tapi waktunya belum tiba. Mungkin besok. Atau minggu depan. Mungkin bulan depan."

Dengan kognisi yang masih sangat belia, aku mengerti bahwa pemahaman keponakanku, yah, memang seperti itu tentang Tuhan. Aku tahu, dia mengingat "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu..." (Mat 7: 7). Saat dia sudah meminta melalui doa, dia "menuntut" untuk diberi. Konsep "semua indah pada waktunya" ("Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." Pkh 3: 11) belum bisa dipahami oleh akalnya.

Rasanya seperti ditampar. Pantas saja Jesus pernah bilang bahwa yang empunya Kerajaan Sorga adalah anak-anak. Menerima perkataan Allah apa adanya. Dan percaya. Mungkin memang harus benar-benar seperti Jacob, yang tidak akan melepaskan Tuhan sebelum Tuhan memberkatinya (Kej 32: 26).

Tuhan itu curang?
Tidak sama sekali.
Tuhan itu suka iseng?
Mungkin.
Tuhan itu baik?
Ya.

Aku sudah menganggur selama 4 bulan.
Masih hidup?
Masih.
Sehat?
Ya.
Tidak bosan?
Kadang-kadang.
Masih dicintai?
Tentu.
Masih mencintai?
Pasti.

Terus? Ya, tunggu saja. Sekarang hidupku indah. Santai, bangun tanpa alarm, tidur tanpa tenggat. Nanti, kalau sudah dapat pekerjaan, pasti lebih indah lagi. Santai, terbang ke Pekanbaru mengunjungi keluargaku, terbang ke Bali mengunjungi keluarga dan sahabatku.

Sekarang? Ya, tunggu saja. Ora et labora. Hasilnya? Ya, tunggu saja.

No comments:

Post a Comment