Me, My Self, and I

Friday, July 18, 2014

Pembenci Manusia

"My little brother hates people."
"Does he hate me, too?"
"I think, no. He has no reason to hate you."
"So, he doesn't hate people. It's just, some people give him reason to hate."

Itu adalah penggalan pembicaraanku dengan salah seorang sahabat, Dye. Salah satu sahabat yang bisa diajak merangkai obrolan bermutu tentang kehidupan, manusia, dan Tuhan. Hari ini, saat orang-orang mulai bangun untuk makan sahur, barulah aku memahami kata-katanya secara mendalam.

Manusia tidak terlahir dengan benci. Tidak pula dengan cinta. Kita mempelajarinya dari lingkungan. Kita memahaminya dengan hati.

Aku percaya bahwa manusia diciptakan dengan penuh cinta oleh Tuhan. Itu sebabnya semua manusia terlahir dengan sempurna di hadapan Tuhan. Ketidaksempurnaan diciptakan oleh pikiran manusia sendiri. Itu sebabnya manusia sering lupa bersyukur, karena merasa hidupnya tidak sempurna.

Imperfection makes perfect. Ketidaksempurnaan itu yang membuat manusia menjadi makhluk sempurna. Kalau tidak ada ketidaksempurnaan, bukankah kita akan menjadi sama seperti Tuhan?

Andre Gide bilang, "It is better to be hated for who you are than to be loved for who you are not."

Aku mengingat seseorang pernah mengatakan, "You are so complicated and sophisticated. I can hardly understand you." Saat dia mengatakannya, aku langsung meresponnya dengan kata-kata Oscar Wilde, "Women are meant to be loved, not to be understood."

Ternyata, tidak cuma satu orang itu saja yang mengatakan hal yang sama. Mereka bilang aku ini aneh. Kompleks. Membingungkan. Andai saja mereka tahu, aku ini seperti halaman sebuah buku anak-anak yang terbuka, bahasanya sederhana, dilengkapi dengan gambar-gambar menarik, tinggal dibaca saja.

Aku pernah membaca kutipan dari seseorang, aku lupa siapa. "A woman either loves or hates. She knows no medium." Aku rasa dia benar.

I don't like hating people; because when I hate somebody, I hate myself as well. She or he whom I hate is a part of myself. We'll not feel disturbed if something or somebody is not part of ourselves.

But at some points, people do give me reason to hate. And I hate it when I hate them.

Dye benar. My little brother doesn't hate people. He doesn't hate human interaction. He just chooses to not see or hear what other people do or say things that makes him hate them.

Aku. Juga. Begitu.

Mencoba. Tapi, akankah nanti mereka akan bilang aku manusia yang tidak punya hati?

No comments:

Post a Comment