Me, My Self, and I

Wednesday, July 4, 2012

Benci. Rindu. Cinta. Kau.

Dari seseorang yang saat ini jauh di mata(mu) dan (kau)jauh(kan) pula dari hati(mu)...

Cintaku,

Aku membencimu seperti minyak yang membenci air.
Seperti perempuan yang bermusuhan dengan ular.
Seperti buyut kucing yang berselisih dengan cicit anjing.

Aku membencimu untuk tiap diammu.
Untuk tiap tatapan tanpa maknamu.
Untuk tiap tepisan tanganmu.
Untuk tiap hembusan kesalmu.
Untuk tiap senyum acuhmu.
Untuk tiap penggal dustamu.
Untuk tiap menit saat kau tidak ada dalam sudut pandangku.
Untuk tiap masa ketika kau tidak menempatkanku dalam hidupmu.
Untuk tiap iris luka dalam hati yang kaugores.
Aku membencimu untuk itu semua.

Cintaku,

Aku membencimu sebesar aku merindukanmu.
Aku bersabar.  Sampai saat ini aku masih terus bertahan.
Menanti kau menyadari bahwa aku adalah hal terbesar dan terbaik yang kau bisa dapatkan.
Berharap kau merindukanku sebesar kau membenciku.

Aku merindukanmu seperti tanah yang terpecah karena kering merindukan tetesan air hujan. 
Semakin kurindukan, semakin aku tersakiti. 
Aku mendambakanmu seperti akar pohon yang menjalar mencari resapan air. 
Semakin kujangkau, semakin aku tidak menemukanmu.

Cintaku,

Aku mencintaimu seperti induk anjing mencintai anak-anaknya. 
Menggonggongi tiap makhluk yang datang mendekat, baik dengan niat jahat maupun baik. 
Aku mencintaimu seperti singa terluka di dekat tunggul pohon. 
Tidak ada tempat berlindung, tidak ada tempat bersandar. 
Menggeram pada tiap hal, marah saat didekati, membenci saat diberikan pertolongan.

Cinta tidak bisa dilihat.  Cuma bisa dirasa.
Cintaku tak bisa dilihat.  Bahkan mungkin tidak bisa dirasa.  Bukan karena aku tidak mencintaimu lagi.  Tapi hatimu terlalu keras untuk merasainya.

Kalau hatiku terluka, janganlah diam.  Bantulah aku.  Karena, hatiku ada padamu, dan hanya kau yang bisa menyembuhkannya.
Kalau hatimu terluka, katakan padaku.  Bantulah aku.  Karena, walaupun hatimu ada padaku, kadang aku tidak mampu mengetahui cara menyembuhkannya.

Cintaku,

Mendekatlah.  Bisikkan padaku apa yang membuatmu susah.  Katakan padaku apa yang membuatmu marah.  Teriakkan padaku apa yang membuatmu putus asa.
Bergeserlah.  Bisikkan padaku apa yang kautahankan.  Katakan padaku apa yang kaucoba tinggalkan.  Teriakkan padaku apa yang kaucoba sampaikan padaku.

Tapi jangan berhenti mencintaiku, saat kekalutan datang.  Jangan berhenti merindukanku, saat kemarahan muncul.  Jangan berhenti mengharapkanku, saat keputusasaan menghadang.


Cintaku, 
Aku di sini.
Masih menanti.

Kau.