Me, My Self, and I

Tuesday, May 15, 2012

S.A.B.A.R.

Kata Paulus, "Kasih itu sabar...." (I Korintus 13: 4)

Menurut KBBI
sa·bar a 1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dng --; hidup ini dihadapinya dng --; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu: segala usahanya dijalankannya dng --;

Wuih!  Rasanya kasih yang dikatakan Paulus itu beraaaatt....banget untuk dilakukan ya?  Kalau kita mengasihi seseorang, kita nggak boleh cepat marah, nggak boleh cepat putus asa, nggak boleh cepat patah hati.  Kita juga harus tenang dan nggak boleh tergesa-gesa.  

Kalau pasangan kita lupa ulang tahun pernikahan, nggak boleh dong cepat marah.  Mungkin dia memang lupa karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.  Atau memang sudah sifatnya yang pelupa.  Tanya dulu, "Yang, kamu ingat nggak hari ini hari apa?"   Atau, langsung saja mengingatkannya, "Cin, kamu nggak lupa kan hari ini anniversary kita yang ketiga?"

Kalau ayah kita selalu janji nggak akan mabuk-mabukan dan berjudi lagi tapi selalu saja mengingkarinya, jangan dong lantas ngomel-ngomel di depannya.  Bisa saja memang dia tidak sanggup berubah sendiri, harus mendapatkan intervensi.  Putus asa tanpa usaha optimal?  Cengeng itu namanya!

Kalau sahabat bilang, "Sudah deh, Bee, lo emang nggak bisa masak.  Masak air aja gosong!", jangan lekas patah hati.  Pertama, bisa aja sahabat bercanda.  Kedua, mungkin aja sahabat pengen mengambil alih tugas tersebut.  Ketiga, mungkin itu salah satu cara sahabat memotivasi agar saya terus berusaha.  Keempat, masa sih patah hati hanya karena dibilang nggak bisa masak?  Konyol!

Semuanya harus dihadapi dan dijalani dengan tenang.  Jangan tergesa-gesa membuat kesimpulan atau interpretasi.

Nah, kalau suami pulang larut malam karena habis pergi hangout dengan teman kantor, padahal pas istirahat makan siang istri sudah menelepon untuk mengatakan bahwa anak-anak sudah dikirim ke rumah opa-oma supaya suami dan istri bisa merayakan anniversary berduaan di rumah, apa nggak boleh juga langsung marahi si suami di pintu depan?

Kalau teman kita pinjam uang selama 1 bulan tapi setelah setahun belum juga mengembalikannya, apa nggak boleh lantas putus asa?  Setidaknya, putus asa untuk menagihnya dan mengembalikannya ke jalan yang benar?

Kalau ibu kita selalu mengatakan, "Nak, istrimu itu kok ya diajar-ajari nggak bisa-bisa.", masih nggak boleh juga patah hati?  Suami atau istri itu kan pasangan jiwa kita.  Kalau jiwa kita diejek, apa kita nggak boleh patah hati?

Kesabaran Tuhan aja ada batasnya kok.  Apalagi manusia.  

Kasih itu sabar.  Paulus benar.  Namun, kalau sudah sampai batasnya, ada dua cara yang bisa kita lakukan.  

Pertama, berhenti sabar!  Marahlah, putus asalah, patah hatilah.  Setelah itu, mulailah tenangkan hati, buatlah harapan baru, sambunglah lagi hati yang patah itu.

Kedua, perluas batas kesabaranmu.  Dan berhentilah mengeluh!

Kalau kedua cara itu tidak berhasil juga Anda lakukan, berhentilah peduli!  Sebab dalam sabar ada kasih, dan dalam kasih (harus) ada kepedulian.


#CatatanSiBee:
Sabar itu bukan keturunan dan bukan bawaan.  Sabar adalah keterampilan.  Dan keterampilan dapat dilatih! :)