Me, My Self, and I

Tuesday, April 24, 2012

100% Indonesia

Beberapa waktu lalu, aku mengunjungi suamiku ke tempat kerjanya yang baru.  Suamiku, yang dulu bekerja di kantor pusat Mandiri Sejahtera, Sdn. Bhd. (MS) sebagai tenaga operasional, dipromosikan dan dipindahtugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja ke Cawangan (bahasa Indonesia: cabang) Johor, Malaysia, untuk memimpin cawangan tersebut (yes, I'm so proud of him and his achievement!).  

Pekanbaru dan Johor memang tidak jauh.  Kalau menumpang pesawat, biasanya dari Pekanbaru ke Kuala Lumpur dulu.  Tentu saja dengan memanfaatkan penerbangan berbiaya murah Air Asia (ini bukan promosi lho!).  Lama penerbangannya hanya 45 menit.  Biaya penerbangan pergi-pulang-nya bahkan bisa lebih murah ketimbang penerbangan sekali jalan dari Pekanbaru ke ibukota negara, Jakarta.

Dari bandara LCCT (Low Cost carrier Terminal), Kuala Lumpur, naik taksi menuju Kajang, Selangor atau langsung ke Seremban, Negeri Sembilan.  Dari Kajang atau Seremban, menumpang bus lagi menuju Johor dengan lama perjalanan 3-4 jam.  Tenang saja, 3-4 jam di atas bus itu sama nyamannya dengan naik  metro mini selama 5 menit (nggak lebay kok!).

Bus yang melayani rute jarak jauh di Malaysia, biasanya bus eksekutif, dengan kursi 1-2.  Satu kursi di sebelah kiri dan 2 kursi di sebelah kanan.  Tempat duduknya lebar, dilapisi jok yang halus.  Kabin bus pun dilengkapi AC yang baik kondisinya dan tidak bau.  (Tidak seperti bus AC Pekanbaru-Medan yang kursinya 2-2, apalagi seperti bus non-AC kursi 3-3 yang bauuuu....).

Turun di daerah Skudai, tepatnya Sri Putri, aku dan suamiku masih harus menumpang taksi selama 10 menit sebelum akhirnya bisa sampai di flat, tempat tinggal suamiku.

Suatu waktu, aku dan suamiku pergi sebuah hypermarket terkenal.  Dari flat, pusat perbelanjaan ini cuma berjarak 10 menit jalan kaki. Tidak terlalu jauh.  Nah, setelah makan siang, kami pergi ke hypermarket tersebut, mencari beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk acara kantor yang diadakan dua hari setelahnya.

Satu barang yang harus kami beli adalah perangkat cangkir dan tatakannya untuk para nara sumber.  Begitu banyak pilihan, beragam harga dan bentuk dan jenis dan warna.  Setelah melihat, menimbang dan memilih, akhirnya kami memutuskan membeli sebuah set yang berisi 6 cangkir dan 6 tatakannya.  Warnanya kuning tua.  Tanpa gambar ataupun ukiran.  Polos saja.

Sebelum ke kasir, aku melihat informasi di kotak set cangkir tersebut.  Kupanggil suamiku.
"Pa, ada warna lain lho. Bukan hanya warna kuning."
"Kalau ada biru, pasti bagus."
"Iya, yang biru muda ini.  Coba tanya pekerjanya."
Suamiku bertanya pada seorang perempuan yang sedang menyusun gelas-gelas ke rak pajang.  Jawaban yang diterima, coba cek sendiri stok yang diinginkan.  Semua stok ada di rak paling atas.
Aku dan suamiku kembali ke rak tempat cangkir tersebut.  Cuma ada satu kotak set cangkir yang lain.  Warna hijau muda.  Kami memutuskan untuk membeli set yang warna hijau saja.

Sambil memeriksa kotak-kotak lainnya, berharap stok set yang warna biru muda masih ada, aku memperhatikan tiap detil di kotak set cangkir warna hijau yang kupegang.
"Pa, coba cari lagi.  Mereknya Briliant."  (Ya, aku tidak salah menulisnya, memang mereknya BRILIANT dengan 1 huruf L).
"Yup.  Bentar."
"Pa, Pa!  Gile bener!  Jauh-jauh ke Malaysia, segini banyaknya pilihan, tetap yang kita pilih yang beginian ya.  Lihat!  100% Indonesia!  Asli buatan Indonesia!"



Aku lahir dan besar di Indonesia.  Sudah menikmati kenyamanan hidup di kompleks perumahan Chevron selama bertahun-tahun.  Sudah pula merasakan susahnya hidup di Jakarta pada masa-masa kuliah dan kerja dulu.  Sudah pernah melihat miskinnya manusia-manusia di Siborong-borong dan kampung pelosok di jantung Kabupaten Jombang.  Sudah pula pernah berbulan-bulan bernafas di kota-kota mapan di Kuala Lumpur.

Ada kalanya aku sangat membenci Indonesiaku.  Saat profesi guru tidak dihargai sebagaimana mestinya sebuah bangsa besar yang harus respek pada para pendidiknya.  Saat bencana alam datang dan para korban dengan tidak tahu malunya hanya menunggu bantuan dari pemerintah.  Saat krisis moneter membuat manusia-manusia Nusantara saling bunuh dan menyakiti.  Saat para pemuda tidak lagi peduli dengan bahasa Indonesia karena menurut mereka bahasa asing jauh lebih keren.  Saat rakyat hanya bisa menghina dan meludahi para pemimpin tanpa berbuat apa pun untuk memperbaiki hidupnya sendiri.  Saat-saat itu, aku sangat membenci Garuda dan Pancasila dan Merah-Putih dan Indonesia Raya.

Harga set cangkir dan tatakannya hanya RM 35.90, setara dengan Rp 105.000,00  Masih terlalu murah bila dibanding dengan harga jualnya di Indonesia yang mungkin tidak kurang dari Rp 150.000,00 per set.

Sejauh aku melangkahkan kakiku keluar dari tanah ibu pertiwi.  Sedalam muakku akan karakter bangsa yang lemah.  Sepahit cemburuku pada dunia lain tanpa bendera merah putih.  Tetap saja.  Aku mengenalinya.  Darahku tetap 100% Indonesia.  Tidak kurang, tidak lebih.  Seperti cangkir hijau yang sekarang nangkring di dapur flat.  

Di mata orang yang mengaku Indonesia, mungkin aku akan disebut pengkhianat bangsa.  Namun, di mata lainnya, sampai mati aku tetap nasionalis terselubung yang akan membela Sabang hingga Merauke.  

Tetap.  100% Indonesia.