Me, My Self, and I

Friday, January 13, 2012

Antara Aku, Facebook, Suamiku, dan Dunia

Aku dan suamiku sering bertengkar karena Facebook.  Ada-ada saja yang menyuluh pertengkaran kami.  Tapi, biasanya pertengkaran dimulai karena aku (sengaja) membuka halamannya dan menemukan orang-orang yang "tidak kukenal" di sana.

Suatu waktu dulu, sebelum menikah, aku sering sekali kesal karena ada perempuan-perempuan yang berbalasan komentar dan pesan dengan suamiku.  Padahal, mengetik satu titik saja di halamanku, suamiku hampir tidak pernah.  Jangankan menulis "Aku rindu kamu" atau "Aku sayang kamu", meng-klik "Like" atas apa pun yang kutulis saja pun suamiku tidak pernah.

Aku mengetahui sebagian kecil orang yang berada di friend list suamiku.  Namun, rasanya, lebih banyak orang yang tidak kutahu.  Jangankan mengenal mereka, tahu mereka siapa saja tidak.  Mungkin ini karena aku dan suamiku bergaul di kelompok yang berbeda.  Latar belakang berbeda.  Keluarga berbeda.  Dunia akademik berbeda.

Aku yakin, suamiku tidak tahu lebih banyak lagi tentang orang-orang di daftar temanku.  Bukan hanya karena jumlah orang di daftar temanku 6 kali lipat lebih banyak dari jumlah orang di daftarnya.  Tetapi juga karena suamiku mudah lupa, terutama melupakan orang.  Ia bisa ngobrol ngalor-ngidul setengah jam dengan seseorang, kemudian setelah berpisah dia dengan polosnya bertanya padaku, "Itu tadi siapa, Ma?"

Suamiku juga pernah kesal karena menemukan seorang sahabat memanggilku "sayang" di wall-ku.  Sahabat lama, yang karena kebetulan laki-laki, yang sudah lama tidak bertemu, menyapaku di bagian komentar.

Orang bilang, kalau kita mencintai seseorang, kita harus mempercayainya.  Orang bilang, kalau kita memang cinta, cemburu adalah tandanya.

Benar, kepercayaan dan kejujuran adalah landasan dalam suatu hubungan.  Tapi percaya begitu saja?  Tolol sekali rasanya.  

Kalau suami mengantar perempuan lain pulang kerja, terus dia bilang, "Yang, dia teman kantorku.  Kasihan, nggak ada yang jemput, padahal hujan deras."  Percaya?

Kalau isteri selalu bisa mengerjakan apa-apa sendiri, terus dia bilang, "Nggak apa-apa kok, cin.  Kamu kan sibuk."  Percaya?

Kalau tidak percaya, bukan berarti tidak cinta.  Itu sudah contoh yang di depan mata lho!  Bagaimana yang tidak dilihat secara langsung?

Pagi ini, aku memenuhi Direct Message Twitter suamiku dengan keluhan-keluhan.  Aku bahkan menyarankannya menutup account Facebooknya.  

Dulu, FB sangat efektif digunakan untuk mencari teman lama, stay connected dengan sahabat-sahabat, bertukar foto dan informasi, stay updated dengan berita.  Sekarang?

Mungkin aku yang memang sudah tidak cocok lagi dengan Facebook.  Atau mungkin dunia cyber terlalu cepat berkembang dan berubah dan aku tidak bisa mengejar ketertinggalanku.

Mungkin aku hanya kangen dunia nyata, saat aku bisa bicara, mengenal, menyentuh manusia secara langsung.  Mungkin aku hanya kangen suamiku dan aku hanya bisa melampiaskannya dengan membuka halaman FB dan melihat foto-fotonya.

Mungkin, pada akhirnya aku hanya merindukan zaman kuda masih gigit besi.  Saat aku mendapat teman baru melalui pos dan jabat tangan.  Saat aku mengenal manusia lain melalui obrolan, pertukaran senyum dan penularan tawa.  Saat aku masih manusia nyata, yang terbuat dari daging, darah dan kulit, dan bukan dari piksel yang membentuk gambar dan karakter yang membentuk kata.

Mungkin aku hanya merindukan zaman kuno.  Bukan yang modern seperti ini dan mengikatku di depan layar komputer.

Menyebalkan.