Me, My Self, and I

Wednesday, November 30, 2011

Antara Malaysia, Beckham, dan Garuda

Beberapa hari ini, media Indonesia penuh dengan berita mengenai kedatangan LA Galaxy (baca: David Beckham) ke Indonesia.  Sampai-sampai tentang Syahrini (penyanyi yang sangat biasa-biasa saja, menurutku) yang mengalungkan bunga di leher Beckham dan hampir pingsan karenanya pun masuk dalam berita.  Sama sekali tidak penning!

Di dunia Twitter, timeline-ku malah memunculkan komentar-komentar yang aneh dan sedikit tolol. Seperti, "Welcome, Beckham. Hope you win against TimNas Indonesia."  Atau seperti, "Beckham rules! Love you, Beckham."

LA Galaxy itu bukan hanya Beckham lho! Dan mendoakan LA Galaxy menang atas TimNas Indonesia? Lucu sekali kalau doa itu dipanjatkan oleh orang Indonesia yang juga fans berat David Beckham!

Suatu waktu dulu, saat aku masih kuliah di Malaysia, seorang teman kuliah (orang Melayu Malaysia) bertanya, "Bee, awak lebih suka stay kat Malaysia ke Indonesia?" (Bee, kamu lebih suka tinggal di Malaysia atau Indonesia?).
Kujawab, "Prefer stay kat Malaysia, lebih teratur dan open-minded." (Lebih suka tinggal di Malaysia, lebih teratur dan berpikiran terbuka).

Di lain kesempatan, teman kuliah lain (orang India Malaysia) bertanya, "Bee, are you going to go back to Indonesia after completing your studying or just looking for job here?" (Bee, kamu akan balik ke Indonesia setelah selesai kuliah atau mencari kerja di sini?)

Kujawab, "Let me try finding a job here for a moment.  They pay me more here.  They appreciate title and profession better here."  (Coba aku cari pekerjaan dulu di sini.  Mereka membayarku lebih.  Mereka menghargai titel dan profesi lebih baik di sini).

Aku mencintai Indonesia.  Walaupun begitu, aku tidak mau berbohong dengan mengatakan kehidupan dan tingkah laku Indonesia lebih baik daripada negara dan bangsa mana pun.  Aku tidak pungkiri kalau Malaysia sedikit lebih maju dalam perekonomian dan pola pikir.  Dan masih banyak aspek lainnya di mana Malaysia "lebih" dari Indonesia.

Ketika kita masih berjibaku untuk memperbaiki jembatan-jembatan yang ambruk (mungkin karena perbandingan komposisi bahan bangunan diutak-atik demi kepentingan pihak tertentu), Malaysia sudah membangun selokan-selokan besar untuk menghindari banjir.

Ketika kita masih menghitung rupiah demi rupiah untuk menyekolahkan anak-anak kita, negara Malaysia sudah mengirimkan putra-putri terbaik untuk menuntut ilmu di Eropa (dengan perjanjian mereka harus kembali ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikannya).

Ketika kita sibuk memperjuangkan kehidupan para pengrajin rotan, batik, dan lainnya, Malaysia sudah memodifikasi budaya yang dulunya dibawa nenek moyang mereka dari bumi Nusantara dan mempopulerkannya menjadi kekayaan seni mereka sendiri.

Memang sulit membandingkan Indonesia dengan Malaysia. Indonesia memiliki ribuan pulau dan ratusan juta rakyat yang harus dipikirkan kesejahteraannya.

Aku mencintai Indonesia.  Betapa pun senangnya aku tinggal di negara orang, apabila Garuda memanggil, aku akan selalu menyahut.  Aku memang tidak sekaya Ciputra, tidak sepandai Habibie, tidak sehebat Kartini, tapi aku bukan pembohong.

Aku mencintai Indonesia.  Walaupun fans Beckham mendoakan Garuda kalah melawan LA Galaxy.
Aku mencintai Indonesia.  Walaupun Malaysia sekarang lebih maju dari Ibu Pertiwi.


Aku mencintai Indonesia.  Itu saja.