Me, My Self, and I

Monday, June 7, 2010

Jam Kerja

Sebagai school counselor yang tidak diberikan jam mengajar dan hak-kewajiban umum sebagai guru, saya dibingungkan oleh pengaturan jam kerja. Saya meng-handle tugas-tugas konseling dan bimbingan di SD dan SMP. Saya pun memberikan pelayanan konsultasi kepada guru dan orangtua siswa.
Jam sekolah:
SD: 8.00 - 14.00 WIB (extra lesson: 14.00 - 15.30 WIB)
SMP: 7.30 - 15.30 WIB

Jam kerja resmi:
1. Helper: 6.45 - 16.30 WIB
2. Guru SD: 7.20 - 14.30 WIB
3. Guru SMP: 7.10 - 15.30 WIB


Jadi, saya menetapkan jam kerja saya sendiri, yaitu pukul 7.00 - 16.00 WIB. Saya harus datang sebelum pukul 7 pagi dan pulang setelah pukul 16.00 WIB. Saya harus sudah berada di sekolah sebelum guru dan siswa datang. Saya boleh meninggalkan sekolah setelah guru dan siswa pulang. Ini saya tetapkan karena adanya kemungkinan guru atau siswa datang ke ruangan saya untuk mendapatkan konsultasi atau konseling sebelum atau sesudah jam sekolah.

Pada jam istirahat SD dan SMP, saya memaksa diri saya untuk tetap stand-by di dalam ruang konseling. Pikir saya, mungkin saja ada siswa yang memanfaatkan jam istirahatnya untuk menemui saya. Sayangnya, jam istirahat siswa juga berarti jam istirahat guru. Alhasil, saya selalu makan siang setelah pukul 13.00 WIB dan sangat jarang berkumpul dengan guru lainnya. Apalagi, saya menempati sebuah ruangan sendiri, yang terpisah dari rekan-rekan kerja lainnya.
Kadang-kadang, saya bertemu dengan guru-guru yang lembur di sore hari. Mereka menyebut saya "orang yang rajin" karena pulang setelah guru-guru lain pulang. Ada juga yang menyebut saya "workaholic" karena mereka pikir saya bekerja lembur setiap harinya.


Minggu lalu, saya terlambat tiba di sekolah tempat saya bekerja pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat. Artinya, selama 1 minggu, setiap hari saya datang terlambat. Saya memaafkan diri saya dengan mengatakan bahwa selama sekian bulan yang lalu saya selalu datang lebih dulu dan pulang lebih akhir, datang terlambat sesekali tidak mengapa.

Hari ini, saya tidak datang terlambat. Ibu saya mengomeli saya tadi pagi, mengatakan saya tidak profesional dan tidak konsisten. Saya tahu, ibu benar. Walaupun dengan hati dongkol (karena tidak sempat sarapan dan berlambat-lambat di Senin pagi), saya memacu sepeda motor saya dengan cepat. Hari ini saya tidak datang terlambat. Saya hanya bertemu beberapa siswa SD dan SMP di halaman dan koridor sekolah. Saya mempunyai waktu yang cukup untuk menyalin baju dan merias wajah tipis-tipis.

Akh, datang tidak terlambat memang enak, yah?!


*thanks, Mom, for preaching me every day, hahahaha....

No comments:

Post a Comment